The Year of Great Jubilee

Koneksi Wireless Internet aDnet (sejak tahun 2004) di Citra Raya, Cikupa, Kedaton, Kencana Alam/ Bonen, Kawidaran, Panongan, Serdang, Korelet, Jambe, Bitung, Binong, Gading Serpong, Alam Sutera, Pagedangan, Jatake, Tangerang, Balaraja, Tiga Raksa, Telaga Bestari, Cisoka, Gembong, Pasar Kemis, Munjul, Cisoka, Asem, Cisauk. Handal, Cepat, Unlimited, Partner Koneksi Internet Anda E-mail/YM: adnetcs@yahoo.com SMS/Tel: 083870739953, 085100646473, 089609896060(billing) aDnet is NEAR You Now

Sabtu, 07 Mei 2016

Pajak Progresif Mobil: Ketahui Cara Menghitungnya

WARTA KOTA, CIPUTAT - Provinsi Banten turut mengenakanpajak progresif. Namun, tak seperti pemberlakuan di Jakarta, pajakprogresif hanya dikenakan untuk kendaraan kedua dan seterusnya yang bertenaga di atas 2.000 cc (cubic centimeter).
"Untuk kendaraan di bawah 2.000 cc tidak dikenakan pajakprogresif," ujar Jasir Sudrajat, Kepala UPT Samsat Ciputat, kepada Warta Kota, Kamis (21/11).
Ketentuan pajak progresif itu, terang Jasir, telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2013. Selain untuk menekan kemacetan, ketentuan itu juga bertujuan meningkatkan pendapatan daerah dari pajak kendaraan. Pajak progresif merupakan besaran pajakyang diterapkan untuk pembelian unit kendaraan lebih dari satu.
Di Provinsi Banten ketentuannya adalah, pajak 1,5 persen dari nilai jual kendaraan kedua; 2,5 persen dari nilai jual kendaraan ketiga; dan 3,5 persen dari nilai jual kendaraan keempat dan seterusnya. "Tapi itu hanya untuk kendaraan di atas 2.000 cc," tegas Jasir.
Karena ketentuan yang lebih ringan dibandingkan Jakarta, lanjut Jasir, kontribusi pendapatan dari pajak progresif di Provinsi Banten amat minim. Salah satunya karena amat sedikit warga Banten yang memiliki kendaraan berkekuatan di atas 2.000 cc lebih dari dua unit.
"Sudah begitu kebanyakan kendaraan yang satunya sudah dijual, jadinya kita nggak kenakan pajak progresif. Asal masyarakat bisa menunjukkan surat resmi bahwa kendaraan sebelumnya sudah dijual, ya kita nggak kenakan pajak progresif," terang Jasir lagi.
Meski demikian, dengan pemberlakuan pajak progresif di Jakarta, Jasir berharap warga Jakarta memutasi kendaraannya ke Banten. Secara otomatis, katanya, kondisi demikian akan mendongkrak pendapatan daerah dari sektor pajak kendaraan.
"Kita berharap banyak kendaraan yang mutasi ke Banten, limpahan dari Jakarta. Dengan begitu otomatis pajaknya akan pindah ke kita," tutur Jasir.
Walaupun, bilang Jasir, dengan kondisi seperti itu Pemerintah Jawa Barat dan DKI Jakarta mungkin akan "marah-marah" karena pendapatan dari pajak kendaraan pindah ke Banten.
"Sebenarnya kita serba salah. Kalau kita nggak memberlakukanpajak progresif kita nggak enak dengan DKI dan Jabar. Sementara kalau kita kenakan dengan ketentuan seperti Jakarta, kita kasihan dengan warga Banten. Makanya kita mengeluarkan keputusan tadi, yakni pajak progresif hanya berlaku untuk kendaraan yang memiliki CC di atas 2.000," tutur Jasir.